Kamis, 20 Oktober 2011

MANFAAT MELAKUKAN PEMANASAN SEBELUM BEROLAHRAGA

MANFAAT MELAKUKAN PEMANASAN SEBELUM BEROLAHRAGA



Perhaps you from small heating was used to perform activities or warming up before exercising. At the time of first school we are taught to warm up first before getting into sports practice lessons in the field. At least we were told to jog around the field or around the streets outside the school. When the gym early in the morning along with any movement would warm up exercises for those who come not too late.

There may be wondering why the heating should be done? what functions and benefits of warming up prior to heavy physical activity like sports? And various other questions which may not be answered until today. What is certain is very important to do warm up before exercise. Than sorry later because it does not heat up yourself, then do warm up even if only briefly.

A. Function / Benefit Warming Before Sports

Sports involving the movement of muscles, joints and bones in a large enough intensity. By doing so warm blood sport that is rich in nutrients and oxygen will flow to the muscles so it's ready to be driven harder work. While the usefulness or benefits of exercise itself is to strengthen muscles, bones, heart, lungs and the circulation of blood.

B. Type / Shape Heating The Quick and Easy

Heating or warming up can be done without the help of any tools and without cost, ie with light jogging, light aerobics, jog in place, and others. Enough to our body sweaty, hot and feeling quite heating approximately 5 to 15 minutes can be followed by muscle stretching or streching for a few minutes for your muscles more flexible to use later.

C. Effects, Impact, and Effect Not Doing Warming Sport

Without an adequate warm up before doing exercise a dominant activity moves the muscles, joints and bones can result in injury to muscles and joints injuries. Of course, the injury will greatly interfere with activities and may be very painful and need further medical treatment. Muscle injury can be a sprain, whiplash, sprains, muscle cramps, muscle pain, and so forth.

D. Stretching / Streching the Good and True

After warming up that makes a little sweat, then followed by muscle stretching or strenching. Both heating and stretching should be done in a lightweight, low-capacity not too excessive. If done excess can lead to joint injury. Do not let the sport has not been feeling tired or exhausted heavy. If it is done properly then the body will be ready to do sports activities. Then work out with joyous feelings without coercion and forget all the problems that exist.
http://jurnalilmiaholahraga.blogspot.com/

MEMBAKAR LEMAK DENGAN INTENSITAS LATIHAN

ARTIKEL OLAHRAGA | MEMBAKAR LEMAK DENGAN INTENSITAS LATIHAN




In addition to the type of exercise, another important factor in fat burning is an appropriate exercise intensity. You can measure it by measuring heart rate during exercise, Dr. Research. George Brooks of the University of California, Berkeley, showed that the use of fat as an energy source will be maximal if dilakukar exercise intensity below the 65% maximum heart second. On top of these figures, the body will use more carbohydrate than fat as fuel.

While the British study to prove that the most fat burning If you train with intensity of 63% maximum heart rate. Similarly, studies at Laval University, Canada, showed that those who train with high intensity fat loss more than low-intensity exercise.

The importance of an appropriate intensity to burn fat is also revealed in research for eight months at Duke University. The team led by Dr. Cris Slentz concludes:
• People who practice intensively, running 20 miles a week with an intensity of 65% -80% of maximum heart rate, decrease with the addition of fat and muscle rnassa more than people who walk 12 miles per week at 65% -80% maximum heart rate . Both groups are equally not a diet.
• Sports intensive form muscle tissue. The bigger the muscle, the more calories and fat to be used when the body is in normal circumstances. Intensive exercise also burn more fat after exercise compared to low-intensity exercise. The body will use energy from carbohydrates during exercise and during a break from fat, as well as for tissue repair. Amount more than if you do low intensity exercise.

One way to determine the intensity of the exercise is to test speech. This test is very subjective, but effective enough to ensure you are still a long zone of safe and comfortable workout. As long as you can still talk on the sidelines of the exercise without difficulty means you are classified as medium-intensity exercise.

As for measuring the heart rate can be performed using such a measuring device at hand. But you can also do it manually, by putting your middle finger and index finger just below the ear, then slide to the fingers directly beneath the jaw. Press gently. Starting the count from zero in the first pulse and count the next pulse for ten seconds, then multiply by six. That's what your heart rate. While the maximum heart rate is 220 your age.
http://jurnalilmiaholahraga.blogspot.com/

observasi UKS

Observasi Unit Kesehatan Sekolah
di SMP N 1 Tempel

Unit Kesehatan Siswa SMP N 1 Tempel

1.      Sarana dan prasarana

1.      Ruang klinik

2.      Tempat tidur

3.      Almari obat

4.      Obat-obatan sederhana

5.      Timbangan berat badan

2.      Program kerja

a.       Penanganan siswa sakit

Pada saat kegiatan belajar mengajar terkadang terdapat siswa yang tiba-tiba sakit atau pada saat upacara bendera. Penanganan yang dilakukan oleh tim UKS SMP N 1 Tempel adalah perawtan di UKS. Jika dalam penanganan tersebut siswa dapat pulih akan dikembalikan ke ruang kelas. Namun jika kondisinya masih belum membaik maka akan dibawa ke Puskesmas. Dan penanganan selanjutnya jika masih belum pulih akan dipulangkan ke rumah siswa tersebut dengan diantar oleh guru atau karyawan sekolah.

b.      Penyediaan makanan sehat

Pembina UKS merangkap sebagai pembina kantin sekolah. Upaya peningkatan kesehatan yang dilakukan adalah menyediakan jajanan sehat yang bebas dari zat-zat yang berbahaya.

c.       Persiapan akreditasi

Memaksimalkan fasilitas serta pelayanan UKS serta fasilitas sekolah lainnya.

3.      Upaya sekolah

a.       Kerjasama dengan Puskesmas. Lokasi sekolah yang dekat dengan Puskesmas setempat memudahkan kerjasama dengan aparat kesehatan yang memiliki fasilitas kesehatan yang lebih memadahi dibanding fasilitas yang disediakan sekolah.

b.      Pemeriksaan kesehatan yang bekerjasama dengan Puskesmas pada siswa baru. Diantaranya pemeriksaan mata, gigi, dan telinga. Hal ini dilakukan agar pihak sekolah dapat mengetahui tingkat kesehatan para siswa barunya.

c.       Pemeriksaan golongan darah. Dilakukan pada semua siswa.

d.      Makanan sehat di kantin sekolah. Seperti makanan yang bebas pengawet, penyedap, serta pewarna yang berbahaya. Diharapkan seluruh siswa dapat terjaga kesehatannya selama melakukan kegiatan di sekolah maupun kegiatan di luar sekolah.

4.      Kendala

-          Walaupun sekolah telah memfasilitasi kantin sekolah yang menjual makanan sehat, namun kebijakan sekolah yang memperbolehkan pedagang luar masuk ke area sekolah membuat aparat sekolah kurang bisa mengontrol kualitas makanan yang di konsumsi para siswa. Sehingga terkadang siswa juga terganggu kesehatannya karena kebiasaan tersebut.

-          Minat siswa pada ekstrakulikuler PMR menurun sehingga kegiatan PMR yang dulunya berjalan kini berhenti total. Sehingga dalam penanganan kesehatan hanya dilakukan oleh petugas UKS atau pembina UKS.

-          Pembina UKS adalah guru matematika yang pada umumnya kurang begitu mendalami masalah kesehatan. Sehingga terkadang dalam penanganan kesehatan di sekolah kurang ahli atau membutuhkan bantuan dari petugas UKS atau bahkan Puskesmas.

observasi sarpras penjas

OBSERVASI SARANA DAN PRASARANA PENJAS DI MTsN DLINGO BANTUL

A.    IDENTITAS SEKOLAH

Nama sekolah       : MTsN Dlingo Bantul

Alamat sekolah    : Jl. Muntuk Desa Muntuk Kecamatan Dlingo Bantul

Luas sekolah        : 4005 m2



B.     JUMLAH SISWA DAN KELAS

a.       Total siswa     : 175

Siswa putra    : 100

Siswa putri     : 75

b.      Total kelas      : 8 ruang

Kelas 7           : 2 ruang

Kelas 8           : 3 ruang

Kelas 9           : 3 ruang



C.    GURU PENJAS DAN JAM MENGAJAR

Jumlah guru penjas                       : 2 guru

Jam mengajar guru penjas            : masing-masing 2 jam x 4 kelas



D.    SARANA

Alat
Jumlah
Merk
Keterangan
Kondisi
Bola sepak
2
Mikasa
Bajakan
Cukup baik
Bola voli
2
Mikasa
Asli
Cukup baik
Peluru
4 (3 kg)
-
Asli
Kurang
Lembing
4
-
-
Cukup baik
Raket
8
Yonex
Bajakan
Cukup baik
Shuttlecock
2 pack
Maleo
Asli
Baik
Tali skipping
2
-
Asli
Baik
Bat tenis meja
4
-
Asli
Baik
Bola plastik
10
Lener sport
Asli
Baik





E.     PRASARANA

Fasilitas
Perkakas
Kondisi
Keterangan
kepemilikan
Bak pasir lompat jauh
-
Standar
Tidak layak
Sekolah
-
Meja tenis meja
Standar
Tidak layak (rusak)
Sekolah



Fasilitas untuk lompat jauh berukuran standar, namun karena jarang sekali digunakan sehingga batas tepi bak pasir tidak terlihat karena tertutup pasir dan tanah serta rumput yang tumbuh. Menurut guru penjas jika akan menggunakan bak pasir tersebut maka harus dicangkul dan dibersihkan dari rumput liar yang tumbuh.

Siasat guru penjas dalam melaksanakan pelajaran penjas dengan prasarana yang kurang tersebut dengan variasi olahraga seperti jalan atau lari di jalan sekitar sekolah. Terkadang pelajaran dilakukan di lapangan milik desa yang jarak tempuh dengan berjalan kaki sekitar 15 menit. Namun karena hal itu juga memakan waktu perjalanan maka pelajaran penjas lebih sering dilakukan di sekolah.

F.     ANALISIS, KRITIK, DAN SARAN

MTsN Dlingo terletak di daerah pedesaan yang tepatnya di sebuah gunung. Terletak di lokasi yang cukup tinggi dan lahan yang tidak rata atau berbukit. Sehingga letak antara gedung sekolah satu dengan yang lain tidak dalam tanah yang sejajar.

Lokasi seperti ini sulit untuk membuat lapangan yang berukuran standar atau layak. Karena daerah yang tidak rata dan menanjak. Sekolah memiliki satu buah halaman yang biasa digunakan untuk upacara. Halaman ini dimanfaatkan untuk kegiatan pembelajaran penjas di sekolah ini dengan kegiatan seperti sepak bola, bulutangkis atau bolavoli.

Saat pembelajaran penjas, kegiatan yang paling sering dilakukan adalah sepakbola untuk siswa laki-laki dan untuk siswa perempuan biasanya bermain bulutangkis dan bolavoli. Walau bukan permainan sesungguhnya karena tidak memiliki lapangan atau net untuk bolavoli dan bulutangkis, namun kegiatan ini sudah dinggap sebagai pembelajaran penjas.

Sekolah ini memiliki dua guru penjas namun keduanya bukan dari lulusan pendidikan jasmani. Melainkan guru PKN dan BK. Mereka mengajar penjas berdasarkan apa yang mereka ketahui tentang olahraga, hanya tentang garis besarnya saja. Hal ini kurang efektif karena penjas harusnya diberikan kepada siswa oleh guru yang memiliki latar belakang pendidikan jasmani atau olahraga.

Walau lokasi sekolah yang tidak memungkinkan untuk membuat lapangan yang berukutran standar, tapi setidaknya guru mempunyai inisiatif untuk membuat modifikasi permainan yang menyenangkan atau bisa mewakili kegiatan olahraga agar inti dari pendidikan jasmani bisa terlaksana, yakni gerak. Kegiatan olahraga tidak harus dengan permainan yang sesungguhnya, karena lokasi yang tidak memungkinkan, namun terdapat bagian-bagian permainan yang seperti permainan sesungguhnya. Selain itu halaman yang dimiliki bisa diberi perlengkapan permainan seperti net yang bisa dilepas setelah digunakan, agar pembelajaran juga bisa efektif.

Saran untuk guru maupun kepala sekolah adalah untuk memanfaatkan halaman yang dimiliki dengan membuat tempat untuk tiang net yang bisa dibongkar pasang kembali setelah digunakan. Tidak harus tiang permanen agar halaman tersebut juga bisa digunakan untuk kegiatan lain. Selain itu perkakas yang sudah rusak bisa diperbaiki agar bisa digunakan. Seperti contohnya meja tenis meja yang rusak bisa diperbaiki agar bisa menambah variasi kegiatan penjas di sekolah tersebut.

Jika pihak sekolah tidak melakukan perbaikan maka selamanya fasilitas atau perkakas tersebut akan selalu seperti itu dan bisa jadi kegiatan pembelajaran tidak efektif. Selain itu para siswa juga bisa merasa bosan terhadap kegiatan penjas yang melakukan hal itu-itu saja. Penjas tidak harus dengan permainan yang sesuai dengan peraturan sesungguhnya karena inti dari pendidikan jasmani adalah gerak. Sehingga permainan tradisional pun bisa digunakan untuk mengisi pelajaran penjas di sekolah.

Dari penjelasan tersebut, banyak usaha yang bisa dilakukan agar kegiatan pembelajaran bisa berjalan efektif dan menyeluruh. Seperti contohnya membuat lubang di halaman sekolah untuk tempat tiang net yang bisa dibongkar pasang, membersihkan bak pasir untuk lompat jauh dari rumput dan menatanya kembali, memperbaiki meja tenis meja yang sudah rusak agar bisa digunakan karena sekolah memiliki bat tenis meja namun meja tenis mejanya rusak, sehingga alat tersebut tidak digunakan.

Pembuatan fasilitas atau perkakas baru tidah harus dengan barang yang mahal atau kualitas baik. Memanfaatkan bahan yang ada lebih baik daripada menggunakan barang yang terlalu mahal atau sulit didapat. Seperti tiang untuk net bisa dari batang bambu serta netnya tidak harus net asli, bisa dibuat dari tali plastik yang lebih murah.

Selain itu, usaha yang bisa dilakukan bukan hanya terhadapa alat, perkakas, atau fasilitas yang ada, perbaikan bisa dilakukan pada modifikasi permainan yang bisa membuat seluruh siswa yang mengikuti pelajaran aktif bergerak. Permainan  bisa mengadopsi dari permainan sesungguhnya atau dari permainan tradisional. Permainan dimodifikasi sedemikian rupa sehinggga bisa membuat seluruh siswa aktif dan bersifat menyenangkan. Karena jika kegiatan penjas yang dilakukan hanya dengan kegiatan yang sama dan berulang-ulang maka siswa dapat merasa bosan.

Dengan adanya perbaikan atau modifikasi terhadap alat atau permainan untuk kegiatan penjas di sekolah tersebut maka keefektifan pembelajaran dapat tercapai. Selain semua siswa dapat terlibat dalam kegiatan, variasi kegiatan juga akan bertambah dan dapat mengurangi rasa bosan siswa terhadap kegiatan pembelajaran penjas. Variasi terhadap permainan tradisional yang digunakan juga bisa melestarikan permainan tradisional yang ada di daerah tersebut. Karena banyak permaina tradisional yang menggunakan banyak gerak sehingga seseorang bisa aktif bergerak di dalam kegiatan tersebut.